Kota Mojokerto, yang dikenal sebagai “Service City” dan bumi dari warisan besar Majapahit, adalah sebuah wilayah urban yang terus bergerak dinamis. Pertumbuhan ekonomi, jasa, dan kepadatan penduduk yang kian meningkat menjadi ciri khas kota yang hidup. Namun, seperti halnya semua pusat perkotaan yang berkembang pesat, dinamika ini membawa konsekuensi lingkungan yang harus dikelola secara serius.
Dua isu utama yang menjadi tantangan di wilayah perkotaan padat adalah pengelolaan volume sampah yang terus meningkat dan penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang memadai. Menjaga Kota Mojokerto tetap bersih, sehat, dan asri di tengah himpitan pembangunan adalah sebuah prioritas yang membutuhkan strategi cerdas dan partisipasi aktif dari seluruh warganya.
Prioritas Utama: Menangani Darurat Sampah Perkotaan
Karakteristik konsumsi masyarakat perkotaan menghasilkan timbulan sampah dalam volume yang sangat besar setiap harinya. Sampah ini berasal dari rumah tangga, pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan kawasan perkantoran. Selama ini, paradigma “kumpul-angkut-buang” ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi andalan. Namun, TPA memiliki kapasitas dan usia pakai yang terbatas.
Ketergantungan penuh pada TPA adalah bom waktu. Oleh karena itu, pergeseran paradigma ke pengelolaan sampah dari hulu (sumber) menjadi sebuah keharusan. Di sinilah letak pentingnya gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Masyarakat tidak bisa lagi sekadar membuang sampah, tetapi harus mulai memilahnya.
Memilah sampah organik (sisa makanan, daun) dan anorganik (plastik, kertas, kaleng) adalah langkah pertama yang paling krusial. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik yang bernilai ekonomis dapat disalurkan melalui Bank Sampah. Inisiatif seperti Bank Sampah Induk dan Unit Pengolahan Sampah (UPS) di tingkat komunitas menjadi tulang punggung untuk mengurangi tonase sampah yang harus berakhir di TPA.
Menjaga Paru-Paru Kota: Vitalnya Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Tantangan kedua di kota padat seperti Mojokerto adalah mempertahankan dan menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Di tengah tingginya nilai lahan untuk properti komersial dan perumahan, RTH seringkali terdesak. Padahal, RTH memiliki fungsi ekologis yang vital.
RTH berfungsi sebagai “paru-paru kota” yang menyerap polusi udara dari aktivitas transportasi. Ia juga menjadi area resapan air hujan yang krusial untuk mencegah genangan dan banjir, sekaligus menjaga cadangan air tanah. Selain fungsi ekologis, RTH memiliki fungsi sosial sebagai tempat warga berinteraksi, berolahraga, dan mendapatkan rekreasi yang sehat dan terjangkau.
Menjaga sempadan sungai agar tetap hijau, merevitalisasi taman-taman kota, dan menambah area hijau di fasilitas-fasilitas publik adalah investasi jangka panjang untuk kualitas hidup warga kota.
Kolaborasi adalah Kunci: Peran DLH dan Masyarakat
Menghadapi dua tantangan besar ini, pemerintah kota tidak bisa bekerja sendirian. Peran aktif masyarakat adalah penentu keberhasilan. Di sinilah **Dinas Lingkungan Hidup (DLH)** mengambil peran sentral sebagai motor penggerak, fasilitator, sekaligus regulator.
DLH bertugas memastikan sistem pengelolaan sampah berjalan, mulai dari edukasi pemilahan, fasilitasi Bank Sampah, hingga pengelolaan TPA yang baik dan benar (sanitary landfill). Dalam hal RTH, DLH bertanggung jawab atas perencanaan, penanaman, dan perawatan taman-taman kota serta jalur hijau.
Untuk mendukung kolaborasi ini, transparansi informasi sangat penting. Masyarakat perlu tahu program apa yang sedang berjalan, bagaimana cara berpartisipasi dalam Bank Sampah, atau ke mana harus melapor jika ada pelanggaran lingkungan. Untuk itu, semua informasi, layanan, dan program resmi dapat diakses melalui https://dlhkotamojokerto.id/. Portal ini menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan publik.
Menuju Mojokerto Berbudaya Lingkungan
Pada akhirnya, tujuan besarnya adalah menciptakan “Kota Mojokerto Berbudaya Lingkungan”. Sebuah kota di mana setiap warganya memiliki kesadaran bahwa kebersihan dan kelestarian adalah tanggung jawab pribadi yang berdampak kolektif. Sampah yang terpilah dari dapur Anda, pohon yang Anda tanam di depan rumah, adalah kontribusi nyata.
Dengan sinergi antara program pemerintah yang terarah, yang informasinya bisa didapat di https://dlhkotamojokerto.id/, dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, Kota Mojokerto dapat membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.

Seorang penulis ulung yang menorehkan kata-kata. Terlibat dalam organisasi pemuda dan mengolah informasi publik. Pecinta jus Sunkist dan sukarelawan berbagi kebahagiaan. Mengembara di dunia keadilan. Pengalaman merakap data di instansi pemerintah melengkapi perjalanan.




